USAHAMUDA

Memudarnya Popularitas Terompet Kertas Di Tengah Munculnya Terompet Pabrikan

Memudarnya Popularitas Terompet Kertas

MINIARTIKEL.COM, KAB. MALANG – Malam pergantian tahun merupakan malam yang mungkin dinanti-nanti oleh beberapa orang, karena setelah pergantian tahun nanti mereka mempunyai beberapa keinginan yang belum bisa dicapai ditahun sebelumnya dan ingin memperbaiki segala hal yang dirasa masih kurang pada tahun sebelumnya.

Pergantian malam tahun baru juga sering dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk melakukan aktifitas, dibeberapa kota pun cara untuk merayakan pergantian malam tahun baru berbeda-beda, ada yang merayakan dengan kumpul Bersama keluarga dan melakukan renungan serta doa-doa, namun juga ada orang yang mengisi malam pergantian tahun dengan cara berkumpul disuatu titik dan melakukan kegiatan senang-senang, missal dengan menyalakan kembang api dan meniup terompet sebagai tanda kegembiraan menyambut tahun baru yang akan datang.

Memudarnya Popularitas Terompet Kertas
Produk terompet yang dihasilkan Siti Fatimah. Foto: Andri

Namun, beberapa orang yang berada di Kabupaten Kepanjen, Malang tepatnya di Jalan Anggrek lebih memanfaatkan kesempatan malam pergantian tahun baru itu dengan membuat terompet yang berbahan dasar dari kertas, setiap malam pergantian tahun akan tiba mereka sudah mulai bersiap-siap untuk membuat kerajinan terompet dari kertas tersebut dan akan dijual waktu malam pergantian tahun tiba.

Memudarnya Popularitas Terompet Kertas
Peniup Terompet kertas

Salah satu pengrajin yang ada di Jalan Anggrek tersebut yaitu, Siti Fatimah (45) mengaku sudah mulai membuat kerajinan terompet tersebut sejak 20 tahun silam, Siti Fatimah yang kesehariannya hanya berjualan nasi goreng di sekolah SD dilingkungannya tersebut mulai membuat kerajinan terompet sejak ia masih tinggal di Kediri, di daerah tempat tinggalnya itu setiap 2 bulan mendekati tahun baru masyarakat yang kesehariannya berjualan macam-macam beralih profesi menjadi pengrajin terompet. Setiap harinya ia bisa mendapat pesanan terompet sampai 3000 buah dengan harga jual per bijinya jika yang polosan ia bandrol mulaiharga 5-10 ribu, namun jika yang berbentuk naga ia jual dengan kisaran harga 10-15ribu.

“Dulu itu dalam sehari ketika malam pergantian tahun datang untuk mendapatkan uang senilai 3juta itu sangat mudah makanya sebagian masyarakat yang ada di Kediri lebih memilih untuk beralih profesi menjadi pengrajin terompet karena memang sangat menjanjikan.

Tapi semenjak tahun 2013 popularitas dari terompet kertas tersebut mulai kalah dengan terompet plastic yang dari pabrik.” Ujarnya ditengah-tengah cerita. Memang popularitas dari terompet kertas saat ini sudah menurun drastis jika dibandingakan dengan sebelum tahun 2013, saat ini dalam sebulan kadang-kadang terompet yang ia buat masih sisa banyak dan sering kali ia menyimpan sisa dari terompetnya tersebut untuk dijual pada tahun depan.

Keresahan yang dialami oleh Siti Fatimah itu juga dirasain beberapa pengrajin yang ada di desa tersebut mereka mengaku jika dalam kurun waktu 5 tahun ini menjadi pengrajin terompet sudah tidak bisa dijadikan pekerjaan yang utama lagi waktu malam pergantian tahun, karena memang masyarakat saat ini lebih memilih untuk membeli terompet yang dari plastik karena memang dari segi harga, kualitas, dan suara lebih bagus daripada terompet yang berbahan dasar dari kertas. Untuk saat ini para pengrajin terompet kertas berharap agar masyarakat mau untuk beralih kembali untuk membeli terompet dari kertas, meskipun tidak bisa awet seperti terompet dari plastik setidaknya terompet kertas ini mempunyai motif dan bentuk yang tidak kalah lucu dari terompet plastik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.