USAHAMUDA

Kurangnya Modal Membuat Usaha “Kupu-Kupu” Menjadi Terhenti

Membuat Usaha “Kupu-Kupu”
Abdullah (53) dengan produk kupu-kupu yang ia hasilkan. (Foto: Andri/usahamudaku)

MINIARTIKEL.COM, Kupu-kupu atau yang mempunyai nama ilmiah Rhopalocera ini merupakan binatang yang sering kita jumpai ketika kita berada di sebuah taman yang berbunga.Mungkin kita semua juga sudah mengetahui bahwa kupu-kupu mempunyai beragam jenis dan mempunyai corak warna yang beragam disetiap jenisnya.

Kebanyakan anak kecil pun juga sangat senang ketika melihat kupu-kupu karena memang hewan tersebut sangat lucu dan tidak begitu berbahaya ketika anak-anak kecil mengajaknya bermain.

 

Keindahan kupu-kupu itulah yang membuat Abdullah (53) terinspirasi untuk membuat souvenir dari bulu angsa bekas pembuatan suttlecock yang disulapnya menjadi replika kupu-kupu yang keindahannya tidak kalah dengan kupu-kupu aslinya. Abdullah sudah mulai merintis usaha pembuatan souvenir kupu-kupu tersebut sejak tahun 2004.

Pada waktu itu souvenir kupu-kupu tersebut sangat banyak peminatnya dalam waktu sehari ia biasa membuat 3000 buah souvenir kupu-kupu dengan mempekerjakan tetangga disektiar rumahnya sekitar 40 orang dan biasanya ia menjual souvenir tersebut kisaran harga antara 1000-10.000 tergantung dari ukuran kupu-kupu tersebut.

Membuat Usaha “Kupu-Kupu”
Salah satu hasil souvenir milik Abdullah. (Foto: Google)

Namun, popularitas souvenir kupu-kupu tersebut hanya berlangsung sampai tahun 2007 saja, setelah itu pamor dari souvenir kupu-kupu tersebut mulai menurun karena kalah saing dengan souvenir lain yang lebih bagus. “Saya membuat souvenir tersebut menggunakan bahan dari bulu angsa bekas karena saya tidak mau mengganggu popularitas kupu-kupu yang ada,” ujar Abdullah.

Selain itu jika kita menggunakan kupu-kupu yang asli kita kesusahan untuk mencarinya karena kebanyakan habitat dari kupu-kupu itu sendiri berada di hutan dan kita juga terkendala tempat jika akan membudidayakan kupu-kupu itu dirumah,” tambahnya.

Hingga saat ini permintaan pasar terhadap souvenir kupu-kupu itu sendiri sangat berkurang,untuk pemasarannya sendiri kita biasa menitipkan ke counter-counter oleh-oleh yang ada di Malang seperti pusat oleh-oleh Kendedes di Singosari. Selain itu, kita juga mendistribusikan ke beberapa kota yang ada di jawa, mulai dari lingkup malang sendiri sampai ke jakarta.

Namun, jika musim hujan tiba seperti saat ini permintaan stock yang ada di jakarta di stop jadi ketika musim hujan seperti ini ia tidak melakukan proses produksi sama sekali dan lebih memilih untuk membuat usaha yang lain.

“Kendala lain selain hujan, saat ini kita juga tidak ada modal ketika akan memulai lagi memproduksi souvenir tersebut, minimal itu jika kita akan membuat satu kali proses produksi membutuhkan modal sekitar 10jutaan untuk membayar pekerja serta bahan yang akan dipakai untuk membuat souvenir tersebut.” Sambungnya lagi.

Saat ini ia hanya berharap ada bantuan modal dari pemerintah untuk memulai kembali usahanya tersebut karena jika usaha tersebut dimulai kembali ia juga mengurangi tingkat pengangguran yang ada di desa tempat produksinya tersebut. (and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.